Perjalanan menuju sebuah prestasi tidak selalu dimulai dari panggung megah atau tepuk tangan meriah. Bagi Azra Nabila dan Atthar Rafi Adanii, dua siswa SMA Edu Global Medan, perjalanan itu justru dimulai ketika langit masih gelap, tepat pukul 04.00 pagi, di Bandara Internasional Kualanamu.
Didampingi Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, guru pembimbing, serta orang tua, keduanya berangkat menuju Yogyakarta untuk mengikuti Grand Final Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2026. Mereka membawa sebuah karya penelitian berjudul “DURI-LIME: Smart Air Purifier Berbasis Karbon Aktif Kulit Durian dan Jeruk Nipis dengan IoT untuk Mitigasi ISPA di Ruang Tertutup.”
Keberangkatan pada pagi buta itu menjadi awal perjalanan yang istimewa. Ada semangat yang dibawa, doa yang mengiringi, dan harapan yang dititipkan kepada dua peneliti muda yang siap membawa nama sekolah ke panggung kompetisi nasional.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali dengan kabar membanggakan: meraih medali perak dan menempati peringkat keempat pada bidang Matematika, Sains, Teknologi, dan Lingkungan (MSTL).
Perjalanan yang Dimulai dari Dukungan dan Kepercayaan
Bagi Azra dan Atthar, keberangkatan menuju Yogyakarta bukan sekadar perjalanan untuk mengikuti perlombaan. Ada proses panjang yang telah mereka lalui sebelum akhirnya berdiri sebagai finalis nasional.
Mulai dari menggali ide penelitian, mempelajari referensi ilmiah, mengembangkan rancangan inovasi, hingga mempersiapkan presentasi, setiap tahap menjadi bagian dari pembelajaran yang membentuk keduanya sebagai peneliti muda.
Di balik perjalanan tersebut, terdapat dukungan dari banyak pihak. Kehadiran Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, guru pembimbing, dan orang tua di Bandara Kualanamu pada pukul 04.00 pagi menjadi gambaran nyata bahwa perjuangan siswa tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Dukungan itu bukan hanya tentang mengantar keberangkatan. Lebih dari itu, ada kepercayaan terhadap kemampuan siswa, apresiasi terhadap kerja keras mereka, dan harapan agar pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi masa depan.
Dengan semangat tersebut, Azra dan Atthar bertolak menuju Yogyakarta untuk menghadapi tantangan berikutnya.
DURI-LIME: Ketika Limbah Menjadi Gagasan Inovasi
Pada Grand Final KREASI 2026, Azra dan Atthar berkompetisi dalam bidang Matematika, Sains, Teknologi, dan Lingkungan (MSTL), khususnya subbidang Matematika, Fisika Terapan, dan Teknologi Rekayasa.
Melalui DURI-LIME, keduanya mengangkat gagasan pemanfaatan kulit durian sebagai bahan baku karbon aktif yang diintegrasikan ke dalam konsep penjernih udara pintar. Penelitian tersebut juga mengeksplorasi pemanfaatan jeruk nipis serta penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) sebagai bagian dari pengembangan sistem.
Gagasan ini berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kualitas udara di ruang tertutup dan potensi pemanfaatan limbah organik menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Di tengah tantangan lingkungan dan perkembangan teknologi, DURI-LIME menjadi upaya siswa untuk menghubungkan sains dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Namun, sebuah inovasi tidak cukup hanya dengan gagasan menarik. Penelitian juga menuntut pemahaman terhadap metode, pengujian, analisis, serta kemampuan menjelaskan hasil dan keterbatasan karya secara ilmiah.
Inilah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Azra dan Atthar. Mereka tidak hanya membawa sebuah produk, tetapi juga membawa proses berpikir, pembelajaran, dan upaya mencari solusi melalui penelitian.
Tiga Hari di Yogyakarta: Belajar, Berkompetisi, dan Bertumbuh
Grand Final KREASI 2026 jenjang SMA/MA berlangsung pada 20–22 Oktober 2026 di Sahid Raya Hotel & Convention, Yogyakarta. Kompetisi ini mempertemukan para finalis dari berbagai sekolah dan daerah di Indonesia untuk menampilkan karya riset serta inovasi terbaik mereka.
Bagi para peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan selama tiga hari. Rangkaian final dan karantina menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru, bertukar gagasan, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan sebagai peneliti muda.
Suasana kompetisi berlangsung meriah dengan kehadiran peserta, pendamping, dan berbagai pihak yang mendukung pengembangan riset pelajar. Pada bidang MSTL, Azra dan Atthar menghadapi persaingan bersama 36 tim yang berkompetisi dalam bidang tersebut.
Di tengah suasana yang penuh semangat, setiap tim membawa karakter dan keunggulan penelitiannya masing-masing. Para peserta tidak hanya ditantang untuk memperkenalkan karya, tetapi juga menunjukkan pemahaman terhadap persoalan yang diangkat, pendekatan ilmiah yang digunakan, serta potensi pengembangan inovasinya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar menyampaikan gagasan secara sistematis, menjawab pertanyaan, menerima masukan, dan membangun kepercayaan diri di hadapan para penilai.
Dalam proses tersebut, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah menjadi bekal penting.
Bagi Azra dan Atthar, tiga hari di Yogyakarta menjadi pengalaman berharga yang melengkapi perjalanan penelitian mereka. Mereka belajar bahwa kompetisi bukan hanya tentang siapa yang memperoleh penghargaan, tetapi juga tentang bagaimana setiap peserta mengembangkan kemampuan dan memperluas perspektifnya.
Di Hadapan Dewan Juri, Gagasan Diuji dan Dipertanggungjawabkan
Sebagai kompetisi riset dan inovasi tingkat nasional, KREASI memberikan ruang bagi para siswa untuk mempresentasikan hasil penelitian dan menunjukkan pemahaman mereka terhadap karya yang dikembangkan.
Dalam ajang ini, keterlibatan unsur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi bagian dari ekosistem pengembangan riset yang mendukung tumbuhnya peneliti muda Indonesia.
Bagi Azra dan Atthar, kesempatan mengikuti kompetisi ini menjadi pengalaman penting untuk membawa gagasan yang dikembangkan di lingkungan sekolah ke ruang evaluasi yang lebih luas.
Mereka ditantang untuk memahami bahwa sebuah penelitian tidak hanya dinilai dari nama atau tampilan produknya. Dasar ilmiah, ketepatan metode, proses pengembangan, hasil pengujian, dan kemampuan mempertanggungjawabkan kesimpulan merupakan bagian penting dalam perjalanan sebuah inovasi.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang tidak selalu dapat diperoleh melalui kegiatan belajar di kelas.
Sebab, menjadi peneliti muda berarti berani mengajukan pertanyaan, terbuka terhadap kritik, dan bersedia memperbaiki gagasan berdasarkan bukti serta penalaran ilmiah.
Medali Perak dan Peringkat Keempat: Buah dari Perjuangan
Setelah melalui rangkaian kegiatan Grand Final KREASI 2026, perjuangan Azra Nabila dan Atthar Rafi Adanii membuahkan hasil yang membanggakan.
DURI-LIME berhasil meraih medali perak dan menempati peringkat keempat pada bidang MSTL.
Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Azra dan Atthar, keluarga, guru pembimbing, serta seluruh keluarga besar SMA Edu Global Medan.
Medali yang dibawa pulang bukan sekadar simbol keberhasilan dalam sebuah kompetisi. Di baliknya, terdapat proses belajar, ketekunan, kerja sama, dan keberanian untuk membawa gagasan menuju panggung nasional.
Menempati peringkat keempat di antara 36 tim MSTL juga menjadi pencapaian yang patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan bahwa karya yang mereka kembangkan mampu bersaing di tengah beragam gagasan dan inovasi yang dibawa oleh peserta dari berbagai daerah.
Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi bekal bagi keduanya untuk terus memperbaiki penelitian, memperdalam pemahaman ilmiah, dan mengembangkan potensi inovasi yang dimiliki.
Bagi sekolah, prestasi ini menjadi pengingat bahwa ketika siswa diberikan ruang untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu, didampingi dalam prosesnya, dan didorong untuk berani mencoba, mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Sambutan Hangat pada Kepulangan
Perjalanan yang dimulai pada pukul 04.00 pagi di Bandara Kualanamu akhirnya mencapai babak yang membahagiakan.
Pada Minggu, 25 Oktober 2026, Azra dan Atthar kembali ke Medan setelah menyelesaikan rangkaian Grand Final KREASI 2026 di Yogyakarta.
Kali ini, mereka tidak hanya membawa pengalaman dan cerita dari perjalanan kompetisi, tetapi juga membawa medali perak yang menjadi kebanggaan bersama.
Kehadiran kembali pihak sekolah yang menjemput mereka, bersama dukungan orang tua yang telah mengiringi perjalanan sejak awal, menjadi simbol bahwa perjuangan siswa mendapatkan tempat istimewa di hati keluarga besar sekolah.
Dari keberangkatan yang berlangsung ketika hari masih gelap hingga kepulangan dengan membawa prestasi, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pencapaian siswa merupakan hasil dari proses yang melibatkan banyak pihak.
Ada siswa yang berani mencoba, guru yang mendampingi, orang tua yang memberikan dukungan, dan sekolah yang menyediakan ruang untuk bertumbuh.
Momen penjemputan itu pun menjadi penutup perjalanan yang hangat sekaligus awal bagi langkah-langkah berikutnya.
Membangun Budaya Riset di SMA Edu Global Medan
Prestasi Azra dan Atthar tidak hanya menjadi cerita tentang keberhasilan mengikuti kompetisi. Lebih jauh, perjalanan DURI-LIME mencerminkan pentingnya membangun budaya riset di lingkungan pendidikan.
Riset mengajarkan siswa untuk tidak berhenti pada apa yang terlihat, melainkan berani bertanya tentang alasan di balik suatu persoalan. Riset juga melatih siswa untuk mencari bukti, menguji gagasan, menganalisis hasil, dan mempertimbangkan manfaat serta keterbatasan dari solusi yang dikembangkan.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan upaya mengembangkan curiosity, critical thinking, creativity, dan problem solving sebagai bekal penting bagi generasi muda.
Melalui penelitian, siswa belajar bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh dengan menerima informasi, tetapi juga melalui proses menemukan, menguji, dan mengembangkan pemahaman.
DURI-LIME menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadi titik awal lahirnya gagasan ilmiah. Kulit durian yang kerap dipandang sebagai limbah membuka pertanyaan tentang pemanfaatan kembali sumber daya, sedangkan persoalan kualitas udara mendorong siswa untuk mengeksplorasi kemungkinan solusi melalui sains dan teknologi.
Tentu, setiap inovasi perlu terus dikembangkan dan diuji agar manfaatnya dapat dipahami secara ilmiah. Namun, keberanian memulai penelitian dan kesediaan menjalani prosesnya merupakan langkah penting dalam perjalanan menjadi inovator.
Bagi SMA Edu Global Medan, pengalaman ini diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk berani menggali potensi, mengembangkan ide, dan menghadirkan karya yang bermanfaat.
Bukan Akhir, Melainkan Awal Perjalanan
Perjalanan Azra Nabila dan Atthar Rafi Adanii menuju Grand Final KREASI 2026 telah memberikan banyak pelajaran.
Mereka berangkat pada pukul 04.00 pagi dengan membawa sebuah penelitian dan harapan. Mereka menjalani rangkaian kegiatan final dan karantina, bertemu dengan peserta dari berbagai daerah, serta mendapatkan kesempatan untuk menguji gagasan di tingkat nasional.
Mereka kemudian pulang dengan medali perak dan pencapaian peringkat keempat di bidang MSTL.
Namun, nilai terbesar dari perjalanan ini tidak berhenti pada penghargaan yang diterima. Ada keberanian untuk mencoba, pengalaman menghadapi tantangan, kemampuan bekerja sama, dan pemahaman bahwa inovasi membutuhkan proses yang panjang.
Satu penelitian mungkin berawal dari pertanyaan sederhana. Akan tetapi, ketika pertanyaan itu disertai rasa ingin tahu, ketekunan, dan pendampingan yang tepat, ia dapat membawa siswa menuju pengalaman yang membuka banyak kemungkinan.
Selamat kepada Azra Nabila dan Atthar Rafi Adanii atas prestasi medali perak pada Grand Final KREASI 2026.
Terima kasih kepada Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, guru pembimbing, orang tua, dan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan ini.
Semoga pencapaian DURI-LIME menjadi penyemangat untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan karya yang semakin baik.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan siswa untuk meraih prestasi, tetapi juga tentang membekali mereka dengan keberanian untuk berpikir, menciptakan, dan memberikan kontribusi bagi masa depan.
Dari Medan menuju Yogyakarta, dari rasa ingin tahu menuju inovasi, dan dari sebuah penelitian menuju kebanggaan bersama.









